contoh pantun
-
Tradisi Lisan dan Pengetahuan Masyarakat Pesisir: Pelajaran dari Smong dan Sasi
Masyarakat pesisir Austronesia, termasuk di Nusantara, hidup dalam ruang yang penuh ketidakpastian. Cuaca ekstrem, perubahan musim, dan risiko bencana laut. Dalam konteks ini, tradisi lisan tidak sekadar berfungsi sebagai cerita atau mitos, melainkan sebagai sistem pengetahuan praktis yang diwariskan lintas generasi. Melalui cerita, pantun, petuah, dan larangan adat, masyarakat pesisir menyimpan pengetahuan tentang mitigasi bencana,
-
Pantun dan Pembelajaran Kontekstual
Sahabat saya Titis Kartikawati saat ini menjadi kepala sekolah di Sanggau, Kalimantan Barat. Satu hal yang saya pelajari dari Titis bahwa pantun bisa menjadi bahan dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual merupakan proses pendidikan yang menunjang siswa melihat makna dari yang mereka pelajari. Caranya dengan menghubungkan subyek yang dipelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari. Contoh yang Titis
-
Pantun Malam Minggu (2)
(1) Beli cincau minum di tempat, terasa nyaman saat dihidang. Malam Minggu bak malam Jumat, terasa seram saat menjelang. (2) Lewat tugu di simpang Jogja, ada walet awas ditangkap. Malam Minggu ini lewatkan saja, lirik dompet isi tak lengkap. (3) Malam Minggu cari ronce, ronce dapatnya di Pasar Boplo. Hobi kamu mah minum STMJ, semester
-
Pantun untuk Motivasi Belajar
Di Kotanopan banyak perunggu, segera bawalah ke Kualanamu. Masa depan masih menunggu, segera giatlah menimba ilmu. Di jalanan ada begal, tertangkap oleh pemilik Fiat. Jika tidak ingin gagal, belajar harus rajin dan giat. Ada arang dari gaharu, cendana sempat dibikin jadi galah. Semua orang adalah guru, dan semua tempat adalah sekolah. Pukat dibawa nakhoda berlayar,
-
Pantun sebagai Tradisi Lisan di Nusantara
Tradisi lisan merupakan budaya yang dihasilkan dalam bentuk pesan atau kesaksian yang disampaikan turun-temurun lintas generasi. Tradisi ini disampaikan melalui ucapan, mantra, pidato, nyanyian, dan dapat berbentuk pantun, cerita rakyat, nasihat, balada, atau kidung atau lagu. Sebagai sumber pengetahuan, maka tradisi lisan harus dilestarikan sebagai sumber sejarah. Kemdikbudristek mencatat ada 4.521 tradisi lisan di nusantara,